ANTIOKSIDAN

Haura Nur Azizah
Program Studi S1 Farmasi
STIKES BORNEO LESTARI BANJARBARU

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tubuh manusia memerlukan keseimbangan antara antioksidan dan radikal bebas. Ketika radikal bebas di dalam tubuh meningkat, kita juga perlu meningkatkan antioksidan. Radikal bebas yang berlebih pada tubuh berbahaya karena merusak berbagai sel tubuh. Tidak hanya merusak sel lain, radikal bebas juga tidak jarang merusak DNA yang menjadi benih tumbuhnya penyakit. Radikal bebas menyebabkan kanker, menurunnya fungsi ginjal, dan katarak. Radikal bebas seperti sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada sel-sel kulit dan merusak sel yang membuat seseorang mengalami penuaan lebih cepat. Untuk menghindari hal tersebut tubuh memerlukan antioksidan untuk mengikat radikal bebas.
Antioksidan dapat mencegah terjadinya kerusakan pada sel terutama pada bagian-bagian sel seperti DNA, sel otak, jaringan kulit, dan sebagainya. Antioksidan dapat berupa enzim yang terdapat dalam tubuh seperti superoksida dismutase, glutation peroksidase, dan katalase. Selain itu, antioksidan dapat pula merupakan senyawa non-enzim. Antioksidan ini didapat dari asupan makanan yaitu dari antioksidan alami yang terkandung dalam makanan maupun antioksidan sintetik yang sengaja ditambahkan pada suatu makanan. (Sunarni, 2007).
Radikal bebas ada yang berasal dari tubuh dan dari luar tubuh. Radikal bebas yang berasal dari tubuh seperti metabolisme aerobik yang merupakan proses penting dalam kehidupan organisme selalu diikuti oleh terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas yang berasal dari luar tubuh seperti polusi udara, alkohol, rokok, radiasi sinar ultra violet, obat-obatan tertentu seperti anestesi, pestisida, sinar X, dan kemoterapi. Karena ini antioksidan dari luar pun juga dibutuhkan oleh tubuh.
1.2 Rumusan Masalah
1.     Apa itu antioksidan?
2.     Apa saja jenis antioksidan?
3.     Bagaimana mekanisme antioksidan di dalam tubuh?
4.     Apa saja sumber antioksidan?
1.3 Tujuan
1.     Untuk mengetahui pengertian antioksidan.
2.     Untuk mengetahui jenis antioksidan.
3.     Untuk mengetahui mekanisme antioksidan di dalam tubuh.
4.     Untuk mengetahui sumber antioksidan.
1.4  Manfaat
Untuk menambah edukasi mahasiswa dari pengertian, jenis, mekanisme antioksidan di dalam tubuh sampai sumber antioksidan.

ISI
2.1 Definisi
Antioksidan merupakan suatu senyawa yang dapat menyerap atau menetralisir radikal bebas sehingga mampu mencegah penyakit-penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler, karsinogenesis, dan penyakit lainnya. Senyawa antioksidan merupakan substansi yang diperlukan tubuh untuk menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas terhadap sel normal, protein, dan lemak. Senyawa ini memiliki struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu sama sekali fungsinya dan dapat memutus reaksi berantai dari radikal bebas (Murray, 2009).
Antioksidan dapat menghambat atau memperlambat oksidasi melalui dua jalur, yaitu pertama melalui penangkapan radikal bebas (free radical scavenging), antioksidan jenis ini disebut dengan antioksidan primer. Termasuk dalam jenis ini adalah senyawa-senyawa fenolik seperti galat dan flavonoid. Jalur kedua yaitu tanpa melibatkan penangkapan radikal bebas. Antioksidan ini disebut dengan antioksidan sekunder yang mekanismenya melalui pengikatan logam; menyerap sinar ultraviolet dan mendeaktivasi oksigen singlet (Pokorny et al., 2001).
2.2 Jenis
Berdasarkan sumbernya antioksidan terbagi menjadi 2 jenis yaitu:
1.     Antioksidan endogen yang dihasilkan oleh tubuh
Antioksidan yang diprosuksi tubuh terdiri dari 3 enzim yaitu superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GSH Px), katalase, serta nonenzim yaitu senyawa protein kecil glutation (Murray, 2009).
SOD berperan dalam melawan radikal bebas pada mitokondria, sitoplasma dan bakteri aerob dengan mengurangi bentul radikal bebas superoksida. SOD murni beruapa peptida orgoteina yang disebut agen anti peradangan. Antioksidan glutation peroksidase bekerja dengan cara menggerakkan H2O2 dan lipid peroksida dibantu dengan ion-ion logam.
2.     Antioksidan eksogen yang didapatkan dari asupan luar tubuh.
Pekerjaan antioksidan endogen dalam menetralkan radikal bebas dibantu oleh antioksidan eksogen (Hernani, 2006).
Menurut Cahyadi (2006) antioksidan terdiri dari dua, yaitu antioksidan alam dan antioksidan sintetik. Antioksidan alami banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran dan buah-buahan (Winarsi, 2007), sedangkan yang termasuk dalam antioksidan sintetik yaitu butil hidroksilanisol (BHA), butil hidroksittoluen (BHT), propilgallat, dan etoksiquin (Cahyadi, 2006).
Berdasarkan pertahanan tubuh antioksidan terbagi menjadi 3 golongan yaitu:
1.     Antioksidan Primer
Antioksidan primer mengikuti mekanisme pemutusan rantai reaksi radikal dengan mendonorkan atom hidrogen secara cepat pada suatu lipid yang radikal, produk yang dihasilkan lebih dari produk inisial (Vaya dan Aviram, 2001).
2.     Antioksidan Sekunder
Antioksidan sekunder atau penangkap radikal (radikal scavenger), merupakan antioksidan yang dapat menekan terjadinya reaksi rantai baik pada awal pembentukan rantai maupun pada fase propagasi. Termasuk golongan ini adalah vitamin E, vitamin C, betakaroten, dan kurkuminoid (Vaya dan Aviram, 2001).
3.     Antioksidan Terseir
Antioksidan tersier yang merupakan antioksidan yang memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi karena efek radikal bebas (Winarsi, 2007).
2.3 Mekanisme
Mekanisme kerja antioksidan dibagi menjadi dua yaitu:
1.     Antioksidan primer yaitu berperan untuk mencegah pembentukan radikal bebas yang baru dengan memutus reaksi berantai dan mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil. Antioksidan primer sebagai pemberi atom hidrogen. Senyawa ini dapat memberikan atom hidrogen secara cepat ke radikal lipida (R*, ROO*) atau mengubahnya ke bentuk lebih stabil, sementara turunan radikal antioksidan (A*) tersebut memiliki keadaan lebih stabil dibanding radikal lipida. Contohnya lesitin.
2.     Antioksidan sekunder yaitu menangkap senyawa radikal serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Senyawa ini memperlambat laju autooksidasi dengan berbagai mekanisme diluar mekanisme pemutusan rantai autooksidasi dengan pengubahan radikal lipida ke bentuk lebih stabil.  Contohnya karotenoid.
2.4  Sumber
Berdasarkan sumbernya antioksidan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
1.    Antioksidan yang sudah diproduksi di dalam tubuh manusia yang dikenal dengan antioksidan endogen atau enzim antioksidan (enzim Superoksida Dismutase (SOD), Glutation Peroksidase (GPx), dan Katalase (CAT).
2.  Antioksidan sintetis yang banyak digunakan pada produk pangan seperti Butil Hidroksi Anisol (BHA), Butil Hidroksi Toluen (BHT), propil galat dan Tert-Butil Hidroksi Quinon (TBHQ).
3.    Antioksidan alami yang diperoleh dari bagian-bagian tanaman seperti kayu, kulit kayu, akar, daun, buah, bunga, biji dan serbuk sari seperti vitamin A, vitamin C, vitamin E dan senyawa fenolik (flavonoid).
Senyawa antioksidan alami pada umumnya berupa vitamin C, vitamin E, karotenoid, senyawa fenolik, dan polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kuomarin, tokoferol dan asam-asam organik polifungsional. Golongan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan meliputi flavon, flavonol, isoflavon, katekin, flavonol, dan kalkon. Turunan asam sinamat meliputi asam kafeat, asam ferulat, asam klorogenat, dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena gugus -OH dan ikatan rangkap dua (>C=C<) yang dimiliki oleh senyawa –senyawa di atas (Muraay dkk, 2009).

Gambar 1. Antioksidan dan Radikal Bebas

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Radikal bebas pada tubuh menusia umumnya berjumlah kecil dan bereaksi dengan antioksidan yang hiasilkan oleh tubuh. Tetapi ketika jumlah radikal bebas yang berlebih pada tubuh, maka tubuh juga membutuhkan antioksidan tambahan dari luar tubuh. Radikal bebas yang berlebih dapat menimbulkan berbagai kerusakan pada tubuh manusia dari kerusakan sel, jaringan, bahkan organ tubuh serta mempercepat proses penuaan pada kulit.
Radikal bebas adalah molekul yang kehilangan satu buah elektron dari pasangan elektron bebasnya, atau merupakan hasil pemisahan homolitik suatu ikatan kovalen. Akibat pemecahan homolitik, suatu molekul akan terpecah menjadi radikal bebas yang mempunyai elektron tak berpasangan. Ketika radikal bebas dan antioksidan bertemu mereka akan bereaksi membentuk molekul yang stabil dan tidak berbahaya. Antioksidan cenderung bereaksi dengan radikal bebas terlebih dahulu dibandingkan dengan molekul lain karena antioksidan bersifat sangat mudah teroksidasi.
Antioksidan merupakan senyawa inhibitor yang bekerja menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif. Tubuh menghasilkan antioksidan secara alami, namun tubuh juga memerlukan antioksidan tambahan. Antioksidan tambahan yang bisa didapatkan beruapa antioksidan sintesis dan antioksidan alami. Antioksidan sintesis biasanya didapatkan pada  produk pangan seperti Butil Hidroksi Anisol (BHA), Butil Hidroksi Toluen (BHT), propil galat dan Tert-Butil Hidroksi Quinon (TBHQ) dan antioksidan alami didapatkan dari bagian-bagian tanaman seperti kayu, kulit kayu, akar, daun, buah, bunga, biji dan serbuk sari seperti vitamin A, vitamin C, vitamin E dan senyawa fenolik (flavonoid).
Antioksidan terbagi menjadi 3 berdasarkan mekanismenya yaitu antioksidan primer yang merupakan senyawa antioksidan mengikuti mekanisme pemutusan rantai reaksi radikal dengan mendonorkan atom hidrogen secara cepat pada suatu radikal, antioksidan sekunder yang merupakan senyawa antioksidan dapat menekan terjadinya reaksi rantai, antioksidan tersier yang merupakan antioksidan yang memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi karena efek radikal bebas.
3.2 Saran
Antioksidan memiliki manfaat yang banyak untuk tubuh. Penting bagi manusia untuk menyeimbangkan antara antioksidan dan radikal bebas. Antioksidan dapat mencegah kerusakan pada tubuh manusia dari kerusakan sel, jaringan, bahkan organ tubuh serta memperlambat proses penuaan pada kulit akibat radikal. Ketika tubuh terpapar radikal bebas berlebih maka tubuh memerlukan antioksidan eksogen. Antioksidan eksogen bisa didapatkan dengan mengkonsumsi produk pangan atau buah dan sayur yang mengandung antioksidan. Untuk menjaga kesehatan tubuh maka konsumsi makanan yang mengandung antioksidan.

DAFTAR PUSTAKA
Cahyadi,W. 2006. Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Hernani, M.R. 2006. Tanaman Berkhasiat Anti Oksidan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Murray R. K., Granner D.K., Rodwell V.W., 2009. Biokimia Harper Edisi 27. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Pokorny. et al., 2001. Antioxidant in Food. England: Woodhead Publishing Ltd.
Sunarni, T., Pramono, S. & Asmah, R., 2007, Flavonoid antioksidan penangkap radikal dari daun kepel (Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th.), Majalah Farmasi Indonesia, 18(3):111-116.
Vaya, Jacob dan Michael Aviram. 2001. “Nutritional Antioxidant: Mechanism of Action, Analyses of Activities and Medical Applications”. Curr. Med. Chem-Imm, Endoc & Metabolism Agents. 1(1): 99-117.
Winarsi, Hery. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta: Kanisius.


Comments

Post a Comment